Happy One Monthversary, deary.... ;*
Showing posts with label heart talk. Show all posts
Showing posts with label heart talk. Show all posts
Wednesday, April 11, 2012
Monday, March 19, 2012
sepekan sebuah kebersamaan
dududu.... saya sedang menunggu. menunggu sang suami yang sedang membelah jakarta untuk menjemput saya.
hmm... ga kerasa udah sepekan lebih sehari saya jadi seorang istri. fase-fase indah berdua masih terasa, tapi juga mulai diiringi dengan fase adaptasi satu sama lain. mulai menemukan sisi2 lain dari seorang suami tercinta. surprise? yes, indeed. happy? jangan ditanya. tapi kalau boleh jujur, kadang saya masih merasa gamang dan merasa aneh dengan perubahan status ini. perubahan status ini ga cuma sekedar terlihat dari cincin yang melingkar di jari, tapi juga dari gaya hidup yang mau tidak mau, suka tidak suka harus mengalami penyesuaian. kalau menurut teman-teman saya di kantor, saya tak ubahnya tuan puteri yang berubah jadi upik abu. saya yang ga pernah masuk dapur, nyolek cucian dan cuek dengan kondisi kamar berubah drastis. hal yang paling jelas tentu saja, saya mencuci pakaian kami berdua sendiri. tidak dibantu oleh orang tua atau dibantu mas2 laundry kiloan. hehe... pertama kali mencuci jangan ditanya deh gimana rasanya, pegel super. begitu pula saat memasak. saya bukannya total tidak bisa memasak, hanya saja, orang tua saya memang tidak pernah mewajibkan saya untuk memasak hidangan di rumah. alhasil, sampai saat ini saya masih nge-blank kalau diminta masak. saya hanya ikuti instruksi ibu saja sambil mengandalkan feeling. masakan saya tidak buruk2 amat ternyata. masih layak dimakan dan rasanya pun tidak mengecewakan. alhamdulillah, dia masih mau makan masakan saya. ;p
fokus pikiran saya pun secara otomatis berubah. kalau dulu mau pergi kemana terserah saya, sekarang tidak lagi. saya harus patuh pada maunya suami. karena dia juga merangkap ojek pribadi saya ;p. selain itu, ketika saya berada di luar, pikiran saya selalu tertuju ke rumah. memikirkan cucian saya yang belum kering dan masih berantakan karena belum disetrika. memikirkan bagaimana membagi tenaga antara pekerjaan rumah tangga dengan pekerjaan dan kewajiban kami berbakti pada orang tua. whew... banyak ya cabang2nya?
tapi itu lah anehnya sebuah pernikahan. di antara kewajiban yang sejibun (lebay ya? maklum, tuan putri ga pernah berurusan ma hal2 begituan), tapi saya tetap merasa bahagia. saya merasa cemas dan sedih manakala melihat suami saya berantakan. saya merasa sedih dan kurang percaya diri manakala mengetahui bahwa pengetahuan memasak saya amat terbatas sehingga tidak bisa menghidangkan makanan yang mewah bagi suami saya. tapi di saat yang lain, saya merasa bahagia tidak terkira saat mengetahui cucian saya kering. baju suami terlipat rapih di pojok lemari. dan bisa saya siapkan untuknya ketika pagi kami akan beraktivitas. lucu ya?
eh, maaf, temans. suami saya sudah datang. (akhirnya....)
sebelum pamit saya mau bilang sesuatu,
macam closing statement gitu lah. ;D
mungkin cinta yang membuat Khadijah menerima setia berpeluh menangis bersama Rasulullah
mungkin cinta yang membuat Rasulullah tertawa lepas saat bersama Aisyah bercanda
mungkin cinta yang membuat Fatimah mau membiarkan tangannya kasar menggiling tepung hingga berdarah
dan mungkin cinta pula yang membuat saya mau menundukkan diri, berhenti pada titik ketaatan, berharap pada sebuah ridho manusia yang saya impikan dapat mengantarkan saya menuju surgaNya.
sepekan,
terima kasih sudah mau menerima saya dengan segala yang ada
dan saya belajar
masih akan terus belajar
hmm... ga kerasa udah sepekan lebih sehari saya jadi seorang istri. fase-fase indah berdua masih terasa, tapi juga mulai diiringi dengan fase adaptasi satu sama lain. mulai menemukan sisi2 lain dari seorang suami tercinta. surprise? yes, indeed. happy? jangan ditanya. tapi kalau boleh jujur, kadang saya masih merasa gamang dan merasa aneh dengan perubahan status ini. perubahan status ini ga cuma sekedar terlihat dari cincin yang melingkar di jari, tapi juga dari gaya hidup yang mau tidak mau, suka tidak suka harus mengalami penyesuaian. kalau menurut teman-teman saya di kantor, saya tak ubahnya tuan puteri yang berubah jadi upik abu. saya yang ga pernah masuk dapur, nyolek cucian dan cuek dengan kondisi kamar berubah drastis. hal yang paling jelas tentu saja, saya mencuci pakaian kami berdua sendiri. tidak dibantu oleh orang tua atau dibantu mas2 laundry kiloan. hehe... pertama kali mencuci jangan ditanya deh gimana rasanya, pegel super. begitu pula saat memasak. saya bukannya total tidak bisa memasak, hanya saja, orang tua saya memang tidak pernah mewajibkan saya untuk memasak hidangan di rumah. alhasil, sampai saat ini saya masih nge-blank kalau diminta masak. saya hanya ikuti instruksi ibu saja sambil mengandalkan feeling. masakan saya tidak buruk2 amat ternyata. masih layak dimakan dan rasanya pun tidak mengecewakan. alhamdulillah, dia masih mau makan masakan saya. ;p
fokus pikiran saya pun secara otomatis berubah. kalau dulu mau pergi kemana terserah saya, sekarang tidak lagi. saya harus patuh pada maunya suami. karena dia juga merangkap ojek pribadi saya ;p. selain itu, ketika saya berada di luar, pikiran saya selalu tertuju ke rumah. memikirkan cucian saya yang belum kering dan masih berantakan karena belum disetrika. memikirkan bagaimana membagi tenaga antara pekerjaan rumah tangga dengan pekerjaan dan kewajiban kami berbakti pada orang tua. whew... banyak ya cabang2nya?
tapi itu lah anehnya sebuah pernikahan. di antara kewajiban yang sejibun (lebay ya? maklum, tuan putri ga pernah berurusan ma hal2 begituan), tapi saya tetap merasa bahagia. saya merasa cemas dan sedih manakala melihat suami saya berantakan. saya merasa sedih dan kurang percaya diri manakala mengetahui bahwa pengetahuan memasak saya amat terbatas sehingga tidak bisa menghidangkan makanan yang mewah bagi suami saya. tapi di saat yang lain, saya merasa bahagia tidak terkira saat mengetahui cucian saya kering. baju suami terlipat rapih di pojok lemari. dan bisa saya siapkan untuknya ketika pagi kami akan beraktivitas. lucu ya?
eh, maaf, temans. suami saya sudah datang. (akhirnya....)
sebelum pamit saya mau bilang sesuatu,
macam closing statement gitu lah. ;D
mungkin cinta yang membuat Khadijah menerima setia berpeluh menangis bersama Rasulullah
mungkin cinta yang membuat Rasulullah tertawa lepas saat bersama Aisyah bercanda
mungkin cinta yang membuat Fatimah mau membiarkan tangannya kasar menggiling tepung hingga berdarah
dan mungkin cinta pula yang membuat saya mau menundukkan diri, berhenti pada titik ketaatan, berharap pada sebuah ridho manusia yang saya impikan dapat mengantarkan saya menuju surgaNya.
sepekan,
terima kasih sudah mau menerima saya dengan segala yang ada
dan saya belajar
masih akan terus belajar
Friday, February 24, 2012
Monday, February 06, 2012
memberi jeda
kamu tahu,
ada saatnya dalam rentang waktu panjang interaksi kita, ada masa dimana kita menjadi begitu sensitif dan tidak bisa saling memahami. kamu melihat dia begitu berbeda dan membingungkan. dan dia semakin frustasi karena tidak dipahami. tapi apa perlu kita membenarkan semua situasi yang aneh di saat itu juga? benang yang kusut tak bisa terurai ketika kau menariknya kencang-kencang. jalinan kusutnya hanya akan semakin rapat dan makin sulit dibenarkan. batu bertemu batu hanya akan saling beradu dan saling mengikis. apa mau kita habis hanya karena satu sama lain saling membenturkan diri?
ada kalanya kita tak ingin dinasehati, hanya didengar. ada saatnya kita tak ingin di dengar, hanya ingin ditunggu. beri waktu, nanti dia akan kembali padamu.
ada saatnya dalam rentang waktu panjang interaksi kita, ada masa dimana kita menjadi begitu sensitif dan tidak bisa saling memahami. kamu melihat dia begitu berbeda dan membingungkan. dan dia semakin frustasi karena tidak dipahami. tapi apa perlu kita membenarkan semua situasi yang aneh di saat itu juga? benang yang kusut tak bisa terurai ketika kau menariknya kencang-kencang. jalinan kusutnya hanya akan semakin rapat dan makin sulit dibenarkan. batu bertemu batu hanya akan saling beradu dan saling mengikis. apa mau kita habis hanya karena satu sama lain saling membenturkan diri?
ada kalanya kita tak ingin dinasehati, hanya didengar. ada saatnya kita tak ingin di dengar, hanya ingin ditunggu. beri waktu, nanti dia akan kembali padamu.
Monday, November 14, 2011
fate
aku meyakinimu,
seperti aku meyakini pagi terang yang berputar bergilir setelah gulita malam
seperti bunga matahari yang percaya pada sinar mentari dan berputar mengikutinya
seperti embun pagi yang menempel di daun rendah kemudian berjalan ke langit menjelma hujan
aku meyakinimu,
tidak dalam bilangan angka seberapa lama kau sudah datang
namun dalam hitungan hari seberapa seru sebuah petualangan masa depan
mungkin bersamamu aku akan terbang, berlari, merangkak, berenang atau menyelam
atau mungkin kita hanya akan diam,
menikmati angin ditemani secangkir teh hangat dan sepiring kue kuning di sore yang dingin
*to certain someone, let's start the journey. :)
seperti aku meyakini pagi terang yang berputar bergilir setelah gulita malam
seperti bunga matahari yang percaya pada sinar mentari dan berputar mengikutinya
seperti embun pagi yang menempel di daun rendah kemudian berjalan ke langit menjelma hujan
aku meyakinimu,
tidak dalam bilangan angka seberapa lama kau sudah datang
namun dalam hitungan hari seberapa seru sebuah petualangan masa depan
mungkin bersamamu aku akan terbang, berlari, merangkak, berenang atau menyelam
atau mungkin kita hanya akan diam,
menikmati angin ditemani secangkir teh hangat dan sepiring kue kuning di sore yang dingin
*to certain someone, let's start the journey. :)
Sunday, October 30, 2011
hari penting
sederhana dan akrab. Itu yang penting buat saya. Ya, hari itu memang penting dan istimewa. Namun, bukankah hari2 setelahnya jauh lebih penting?
Saya ingin segalanya mudah. Tidak mempersulit pihak lain, pun tidak dipersulit pihak lain. Tapi ternyata saya masih harus banyak belajar tentang definisi mudah, definisi tidak mempersulit dan dipersulit. Ada hati2 yang harus dijaga dan nama baik yang harus dihormati. Maka, sederhana itu pun menjadi relatif maknanya. Saya harus berkompromi, pada hal2 yang tidak esensi. Demi kelegaan hati bersama. Semoga Allah tetap meluruskan hati2 kami dan ketaatan2 kami.
Ya Rabbi, faghfirlii... Allahumma yassir walaa tu'assir...
Saya ingin segalanya mudah. Tidak mempersulit pihak lain, pun tidak dipersulit pihak lain. Tapi ternyata saya masih harus banyak belajar tentang definisi mudah, definisi tidak mempersulit dan dipersulit. Ada hati2 yang harus dijaga dan nama baik yang harus dihormati. Maka, sederhana itu pun menjadi relatif maknanya. Saya harus berkompromi, pada hal2 yang tidak esensi. Demi kelegaan hati bersama. Semoga Allah tetap meluruskan hati2 kami dan ketaatan2 kami.
Ya Rabbi, faghfirlii... Allahumma yassir walaa tu'assir...
Thursday, September 29, 2011
reality of fear
admit it.
sometimes...
we are not scared of the dark. we scared of what's in it.
we are not afraid of heights. we're afraid of falling.
we are not afraid of the people around us. we're afraid of being rejected.
we are not afraid to love. we are afraid of not being love back.
we are not afraid of let go. we are afraid to accept the reality that the one we love had gone
we are not afraid to try again. we are just afraid of getting hurt for the same reason.
ah, life do feel bitter sometimes. it's so scary until we think we can't bear it.
but, eventually God always with us. every time of our life. He watch n listen to us. listen and watch every single whisper of our heart. it is us, human. who didn't notice.
But if they turn away, say (O Muhammad SAW): "Allâh is sufficient for me. none has the right to be worshipped but He, in Him I put my trust and He is the Lord of the Mighty Throne." (9:129)
we are not scared of the dark. we scared of what's in it.
we are not afraid of heights. we're afraid of falling.
we are not afraid of the people around us. we're afraid of being rejected.
we are not afraid to love. we are afraid of not being love back.
we are not afraid of let go. we are afraid to accept the reality that the one we love had gone
we are not afraid to try again. we are just afraid of getting hurt for the same reason.
ah, life do feel bitter sometimes. it's so scary until we think we can't bear it.
but, eventually God always with us. every time of our life. He watch n listen to us. listen and watch every single whisper of our heart. it is us, human. who didn't notice.
But if they turn away, say (O Muhammad SAW): "Allâh is sufficient for me. none has the right to be worshipped but He, in Him I put my trust and He is the Lord of the Mighty Throne." (9:129)
Subscribe to:
Posts (Atom)